Desa Wisata Candirejo, Kuat Nilai Tradisi dan Nuansa Kental Desa -->
Paket Wisata Jogja Dewi Tinalah

Desa Wisata Candirejo, Kuat Nilai Tradisi dan Nuansa Kental Desa

Kabarnya, kata candirejo datang dari Candigrha. Tetapi seiring waktu berjalan, penyebutan beralih menjadi Candirga, lalu Candirja, dan pada akhirnya jadi Candirejo sampai sekarang ini. Kata candi sendiri memiliki arti batu dan rejo maknanya subur. Candirejo disimpulkan sebagai daerah yang banyak batu, tapi subur.


Desa Wisata Candirejo
Desa Wisata Candirejo, sumber Candirejo dot com


Aktivitas di Desa Wisata Candirejo

Bermacam aktivitas wisata juga bisa dijumpai di situ. Beberapa salah satunya ialah jelajahi desa naik dokar atau sepeda, rafting di sungai, offroad naik mobil jip ke Bukit Manoreh, dan belajar mengolah makanan tradisionil di dalam rumah masyarakat desa.


Sejarah Desa Wisata Candirejo

Menurut papar tinular (kata turun-temurun), nama Candirejo datang dari kata Candighra. Seiring berjalannya waktu, terjadi peralihan kata atau penyebutan, Candighra selanjutnya beralih menjadi Candirga dan seterusnya berbeda kembali jadi Candirja, dan pada akhirya seperti nama desa itu sekarang ini, yakni Candirejo. Jika dirinci, kata Candi (bahasa Jawa) memiliki arti batu dengan bahasa Indonesia, dan realitanya setengah dari luas daerah desa Candirejo berbentuk wilayah berbukit yang masuk ke teritori pegunungan Menoreh yang disebut sisa gunung api.

Kehadiran batu itu tersimbolkan dalam beberapa nama lokasi yang berkaitan dengan dogma di tempat mengenai batu-batuan seperti Watu Kendhil, Watu Ambeng, Watu Riasg , Watu Klenthing yang berada di desa Perlu, Watu Tambak, Watu Pijakk, Watu Asin, Watu Cekathak yang terletak di desa Sangen dan Kaliduren. Kata Rejo sendiri memiliki arti subur dan ini sebagai pertanda kesuburan tanah daratan Candirejo, walau sebagai tanah tempat kering. Pada akhirannya Candirejo bisa disimpulkan sebagai daerah yang banyak batu-batuannya tapi subur.

Desa Candirejo berada 3 Km mengarah tenggara dari pusat peradaban dunia Candi Borobudur yang bisa dilakukan dengan andong (Transportasi Lokal) sekalian nikmati keelokan alam bukit menoreh dan panggilan dedaunan yang menggambarkan kekentalan situasi ciri khas perdesaan.

Desa Candirejo mempunyai luas daerah 366,25 Ha dalam jumlah KK 1416 dan jumlah warganya 4321 jiwa yang administrative terdiri jadi 15 desa dan terbelah oleh dua sungai (Sungai Sileng / Progo) hingga 8 desa di lereng menoreh ,7 desa sebagai daratan pada bagian utara yang dilewati oleh sungai progo. Di Candirejo ada 6 Tk /Paud, 5 SD , 1 SLTP.

Desa Candirejo berada di ketinggian 100 sampai 850 dpl dengan komposisi umum lahanya berbukit dan daratan dengan curahan hujan rata - rata 2468 mm, dan dalam transisi waktu tertentu terjadi kemarau panjang hingga masyarakat masarakat kesusahan air.

4 Warga Candirejo memiliki karakter aman, aktif dan dinamis. Aman dalan makna masyarakat masarakat selalu junjung kebersama-samaan, hidup rukun, bergotong-royong dengan sama-sama masyarakat, dan memprioritaskan musawarah mufakat dalam ambil keputusan. Aktif dalam makna selalu melakukan dengan sebagus-baiknya tiap program pemerintahan / Desa atau dari Koperasi yang memberi faedah lebih ke masyarakat masarakat. Aktif dalam makna melakukan program yang sudah jadi persetujuan bersama-sama dan selalu inovatif dan selalu proaktif dalam menanggapinya.

Mulai dari rencana yang di motori oleh Pemerintahan Desa dengan membuat Barisan Kerja baik di Tingkat Desa atau Tingkat Desa buat menyosialisasikan ke warga ide Desa Candirejo sebagai Desa Wisata di Tahun 1997. Selainnya untuk publikasi, Barisan Kerja ini bekerja memetakkan semua kekuatan yang dipunyai di setiap - setiap desa di Desa Candirejo baik berbentuk Alam /landscape, Seni Budaya, Kerajinan, Kulineran.

Pemerintahan Kabupaten Magelang memberikan tanggapan positif dengan jadikan Desa Candirejo sebagai Pilot Proyek Desa Wisata di Kabupaten Magelang di tanggal 31 Mei 1999 lewat SK Bupati Magelang No. 556 / 1258 / 19/ 1999 di tentukan jadi "Desa Binaan Wisata Tk.Kab Magelang". Pada tahun 1999 s/d 2003, Pemerrintah Desa Candirejo yang di Tolong Barisan - Barisan Kerja baik yang tingakat desa atau tingkat desa lebih konsentrasi dalam pembimbingan dan pengokohan aktor - aktor wisata. Dimulai dari Kesenian Tradisionil, Home Stay, Transportasi Lokal, Pemandu Lokal, Home Industri, Catering dan lain-lain.

Dalam pembimbingan dan pengokohan barisan itu awal tahun 2001 - 2003 mendapatkan pengiringan dari ISI Yogyakarta, Yayasan Patra Pala dan JICA sebagai pendonor dana pembimbingan pengokohan aktor wisata. Selanjutnya di tanggal 19 April 2003, Desa Candirejo disahkan jadi Desa Wisata oleh Bapak I Besar Ardika sebagai Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Republik Indonesia.

 yang serupa, Koperasi Desa Wisata Candirejo dibuat sebagai Tubuh Pengurus Pariwisata Desa Candirejo oleh Pemerintahan Desa Candirejo bersama Figur Warga yang bergabung dalam barisan kerja. Keputusan itu diperkokoh dengan Surat Keputusan Desa No.04/KEPDES/05/2003 yang mengatakan "Pengurus desa wisata di Desa Candirejo berupa Koperasi Desa Wisata Candirejo".

Koperasi Desa Wisata Candirejo ini terlepas dari Susunan Pemerintah Desa Candirejo, Tetapi bertanggungjawab memberi laporan Gagasan Bujet Penghasilan Berbelanja dan Tersisa Hasil Usaha, Baik setiap bulan, triwulan dan tahunan.

Makanan Ciri khas Desa Wisata Candirejo

Makanan ciri khas Desa Wisata Candirejo ialah "Mangut Beong". Beong adalah ikan air tawar yang hidup di Sungai Progo. Ikan ini diolah dengan kombinasi bumbu rempah - rempah dan santan dengan rasa pedas yang menguasai. Makanan ringan lainnya ialah slondok yang dibuat dari ketela pohon. Proses pembikinannya sesudah ketela di kupas selanjutnya di bersihkan dan di parut. Setalah di parut selanjutnya di pres untuk memperoleh tepung yang hendak dibuat slondok. Kemudian digabung dengan garam. Bawang putih dan ketumbar. Proses seterusnya di kukus lebih kurang 30 menit selanjutnya di masuk kan ke mesin penggiling daging untuk membikin memiliki bentuk. Wujud bundar sebesar gelang tangan dibuat dengan manual satu demi satu. Selanjutnya di jemur dan proses paling akhir dimasak.

Karah salah satunya makanan ringan tradisionil yang dibuat dari ketela pohon. Proses pembikinannya hampir serupa dengan pembikinan slondok. Yang membandingkan, sesudah ketela di kupas dan di parut tidak langsung diolah, tetapi didiamkan sepanjang sehari satu malam. Hingga rasa dari karah ini sedikit asam dan teksturnya lebih keras tetapi gurih.

Seni Budaya Desa Wisata Candirejo

Budaya yang berada di Desa Candirejo seperti Saparan Perti Desa yang disebut aktivitas tahunan warga Candirejo sebagai bentuk rasa sukur ke Tuhan Yang Maha Esa Yang maha Esa. Aktivitasnya di awali dengan Bersih Desa, Genduri di Rumah Kepala Desa, Pengajian, Arak Tumpeng dan Bakti Sosial, Panggung Seni dan di tutup debgan atraksi wayang tadi malam jemu.

Budaya Ilag - ilag sebagia slamatan untuk memulai musim panen. Budaya ngapati dan mitoni ialah slamatan untuk ibu yang memiliki kandungan pada bulan ke4 dan ke7.

Badaya Nyadran dilakuakan tiap tahun sekali di setiap - setiap desa di Bulan Ruwah (Bulan Jawa) bermaksud untuk mengirimi do'a ke nenek moyang dan sebagai gelaran bersilahturahmi saat sebelum hadapi Bulan Ramadhan.

Itu tadi informasi tentang Desa Wisata Candirejo, Semoga bermanfaat untuk referensi info desa wisata Indonesia. Desa Wisata Candirejo menjadi pilihan ketika berwisata di kawasan Borobudur.
Kelas Digital Marketing >